MERONCE KENANGAN MBAK

Ibu masih melantunkan surah Al-Mulk disamping tempat tidur adikku yang sedang kritis. Badannya dipenuhi berbagai macam alat yang aku juga kurang paham fungsinya untuk apa. Layar monitor menampilkan grafik warna warni dan naik turun. Sudah seminggu adikku kritis di ruang ICCU. Kami bergantian menjaganya. Cuma ibu yang gak mau digantikan dan tetap berada di samping tempat tidur adikku. Hanya berpindah saat mandi dan shalat saja. Tadi sore dokter masuk ke ruangan dan menyampaikan kondisi adik yang memang sudah pada titik terendah, Jantungnya masih berdetak karena alat bantu yang masih terpasang dan dokter meminta kami semua untuk ikhlas. Ibu pasrah dan hanya menganggukkan kepala sambil menangis tersedu.

โ€œMbak, ibu ikhlas nak, kalau memang mau pergi, pergilah menyusul Bapakโ€ kudengar ibu berbisik pelan di telinga adikku sambil menahan tangis. Menjelang maghrib satu persatu grafik di layar monitor mulai mendatar sampai akhirnya terdengar bunyi tiiitโ€ฆ panjang. Adikku pergi untuk selamanya di usia dua puluh enam tahun. Pergi dengan penyakit yang diderita sepanjang hidupnya.

Mbakโ€ฆ begitu kami memanggil adik bungsuku dan itupun atas permintaannya. Dia nggak mau dipanggil adik atau ragil dalam bahasa jawa adalah bungsu. Dia tetap ingin dipanggil Mbak. Mbak terlahir normal namun pada usia empat bulan Mbak terserang demam tinggi. Akhirnya dokter merujuk Mbak ke rumah sakit yang lebih besar di ibukota propinsi. Di sana Mbak harus disuntik untuk meredakan demamnya dengan persetujuan kedua orangtuaku. Setelah disuntik selama dua hari dengan interval tiga jam sekali demamnya pun reda dan Mbak dibawa pulang. Tapi kemudian Mbak mengalami masalah dalam gerak motoriknya. Seharusnya pada usia empat lima bulan bayi sudah mulai bergerak dan telungkup namun di usia enam bulan Mbak belum bisa telungkup. Begitu pula dengan kaki dan tanggannya. Terlihat lemah dan lunglai. Hal ini menjadi perhatian ibu yang memang sudah berpengalaman dengan kelima anaknya yang sebelumnya. Dan ibu kembali membawa Mbak untuk konsultasi ke dokter.

Dengan riwayat penyakit yang pernah dialami sebelumnya dokter mendiagnosis kalau Mbak mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik. Mbak pun harus mengkonsumsi berbagai macam vitamin untuk merangsang pertumbuhan syaraf otaknya serta melakukan berbagai macam terapi. Secara fisik pertumbuhan Mbak sangat normal. Dia terlihat lebih tinggi dari anak seusianya. Namun gerakan tangan dan kakinya tidak bisa terkendali secara normal karena badan Mbak menjadi kejang dan kaku bahkan gerakan tangan dan kaki sering menjadi gerakan reflek yang tiba-tiba. Sebagian tetangga sempat mengatakan bahwa Mbak kena guna-guna, sebagian lagi mengatakan kalau Mbak ketempelan waktu ibu hamil. Ibu tidak pernah memperdulikan semua itu, dan dengan gigih terus berusaha mencari obat untuk kesembuhan Mbak. Berbagai cara ibu tempuh. Dari yang tradisional sampai dengan yang medis. Dimanapun ada informasi pengobatan ibu langsung membawa Mbak untuk berobat mencari kesembuhan. Perjuangan ibu untuk kesembuhan Mbak tidak pernah berhenti.

Sampai di usia Mbak yang ke dua belas tahun, ibu pun pasrah dan menghentikan pengobatan karena memang tidak sanggup lagi menggendong Mbak yang fisiknya semakin besar, sementara Mbak juga tidak bisa diletakkan di kursi roda. Mbak hanya diberikan vitamin-vitamin saja. Saat itu kondisi tulang punggung Mbak membengkok, begitu juga dengan lehernya yang teleng ke kanan, sementara kaki nya juga melinting bengkok berlawanan dengan tulang punggungnya. Kondisi ini sangat menyulitkan bila kita menggendongnya dan juga tidak bisa diletakkan di kursi roda. Tapi kasih sayang ibu memang sepanjang jalan. Ibu tetap merawat Mbak dengan penuh kasih. Mulai dari memandikan, memakaikan baju dan menyuapi makan. Tak jarang Mbak buang air di tempat tidur karena memang Mbak juga kesulitan untuk berbicara. Keseharian Mbak hanya tiduran di ruang tengah sambil menonton TV.

Melihat kondisi ibu yang semakin tua dan memang nggak sanggup lagi untuk menggendong dan memindahkan Mbak saat mandi, maka aku menyarankan untuk menyewa orang yang bisa mengurus Mbak, tapi ibu menolak mentah-mentah saranku.

โ€œMbak tanggung jawab ibu, biar ibu yang mengurusnya. Kamu hanya bantu angkat dan pindahkan Mbak ajaโ€ begitu ibu menolak saranku.

Hari berganti minggu dan bulan berganti tahun, ibu terus merawat Mbak walau tak jarang ibu terkena tendangan kaki Mbak yang tiba-tiba reflek bergerak ataupun makanan yang disuap ibu tanpa sengaja tertampik oleh tangan Mbak yang juga tiba-tiba reflek bergerak. Namun ibu tidak pernah marah. Jika aku kebetulan tidak ada di rumah dan Mbak tiba-tiba buang air ditempat tidur. Ibu dengan sekuat tenaga berusaha mengangkat dan memindahkan Mbak ke kamar mandi untuk dibersihkan. Mengurus Mbak merupakan perjuangan besar yang dijalani ibuku karena ibu harus memiliki tenaga ekstra untuk menyeimbangkan gerakan Mbak yang tidak terkendali. Pernah aku melihat ibu menangis setelah selesai memandikan Mbak.

โ€œKalo ibu capek istirahatlahโ€ kataku sambil mengambil alih pekerjaan ibu memakaikan baju Mbak. Ibu menggelengkan kepala dan mengambil kembali pakaian Mbak dari tanganku.

โ€œIbu cuma sedih melihat kondisi Mbak, dia nggak bisa menikmati hidupnya secara normal. Menghabiskan umurnya hanya di tempat tidurโ€ kata ibu sambil mengusap air matanya. Tangannya mengangkat kepala Mbak untuk dipakaikan baju, tapi karena gerakan motoriknya tidak terkendali, kaki Mbak secara reflek menendang perut ibu. Ibu terjengkang ke belakang. Aku yang masih berdiri dibelakang segera menahan tubuh ibu agar tidak terjatuh. Kulihat ibu meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.

โ€œMbaaaakkkโ€ฆ. Kenapa ibu disepak.โ€ teriak ku marah.

โ€œSudahlah, dia kan nggak sengaja, jangan dimarahi, itu bukan maunya diaโ€

โ€œIya tapi sudah keterlaluanโ€ seru ku masih dengan nada marah.

โ€œBukan maunya dia nak, dia nggak bisa mengontrol gerakannyaโ€ kata ibu lagi

Akhirnya aku mengambil alih pekerjaan ibu memakaikan baju Mbak. Dan tentu saja pekerjaan memakaikan baju Mbak merupakan pekerjaan yang menguras tenaga karena selalu mendapat perlawanan yang tidak searah dengan gerakan kita. Aku terengah dan berkeringat begitu pekerjaan itu selesai. Ibu hanya tersenyum melihat ku kecapean. Ku lihat Mbak mulai menangis. Walaupun kondisi tubuhnya sakit tapi emosi dan fikiranya sangat normal. Mbak tau bahwa dia telah menyakiti ibu meskipun tanpa disengaja dan Mbak juga tau kalo aku sangat marah padanya.

            โ€œUuuukโ€ฆ..โ€ suara Mbak memanggil ibu. Ibu langsung bangkit mendekati Mbak.

            โ€œMbak mau makan?โ€ tanya Ibu karena memang sudah waktunya makan siang.

            โ€œNggaaaaaakโ€ฆ. Mbak berteriak panjang untuk kemudian tangisnya pecah.

Saat seperti ini hanya ibu yang paling mengerti apa yang sedang dirasakan Mbak. Dan hanya ibu yang bisa berkomunikasi serta paham apa yang dikatakan Mbak. Mbak menangis kuat dan semakin tersedu-sedu. Untuk melampiaskan emosinya badannya pun semakin kejang dan kakinya menyepak kesana kemari. Ibu berusaha menenangkan Mbak dengan memeluknya dari samping sambil berbisik ditelinga Mbak.

            โ€œUdah jangan nangis lagi, Ibu nggak pa pa koq, kan Mbak nggak sengajaโ€ bujuk ibu.

Perlahan tangisan Mbak mulai mereda dan hanya tinggal sengal-sengalnya saja.

            โ€œUuuukโ€ฆโ€ Mbak kembali memanggil ibu.

            โ€œYaโ€ฆ makan ya?โ€ kembali ibu menawari makan.

            โ€œAaaapโ€ฆ.โ€ Katanya lagi.

            โ€œMaaf ?โ€ tanya ibu. โ€œYaaaโ€ฆ.โ€ jawab Mbak lagi.

            โ€œIya, sudah ibu maafkan koqโ€ kata ibu lagi sambil tersenyum.

Ya Allah, Ibu terbuat dari apa hatimu. Menghadapi cobaan yang sebegini berat tapi hati dan sabar mu tak tertandingi, seluas dan sedalam lautan. Hanya tenagamu yang sudah mulai berkurang karena umur yang semakin lanjut. Aku mendekati ibu dan mulai mengurut pundak serta kakinya yang letih. Setelahnya aku beralih mengurut tangan ibu, ku genggam jemarinya dan ku urut perlahan jemari yang sudah keriput.

โ€œYa Allah sudah berapa banyak suapan nasi yang sudah dihantarkan jemari ini ke mulut kami anak-anaknya?. Jemari yang juga tidak pernah bosan membelai saat kami menangisโ€

Aku tersedu perlahan, tak terasa air mata menetes di pipiku. Ku pegang lengan kiri ibu yang ternyata bengkok nggak bisa diluruskan.

            โ€œTangan ibu kenapa?โ€ tanyaku sambil memperhatikan lengan ibu yang bengkok

            โ€œUratnya kaku karena menahan kepala Mbak waktu menyuapinya makanโ€ kata ibu tenang. Airmataku semakin deras bercucuran. Kuciumi lengan dan jemarinya yang keriput. Berkali kuucapkan kata maaf padanya karena hal itu luput dari perhatian ku selama ini. Ibu masih tersenyum dan terus membelai kepalaku sambil berucap โ€œsuatu saat kamu akan paham dan  mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ibuโ€

Ibuku, wanita hebat luar biasa yang sepanjang hidupnya penuh perjuangan tanpa menyerah dan tanpa keluh kesah. Selama dua puluh enam tahun mengurus anaknya yang sakit. Belakangan aku tahu dari membaca dan banyak mencari referensi bahwa penyakit yang diderita adikku bernama Cerebral Palsy.  Kini Mbak sudah tenang dan tidak sakit lagi.

Dokter mengatakan tangan ibu tetap bengkok dan nggak bisa diluruskan lagi karena faktor usia dan urat yang kaku dalam jangka waktu yang lama. Kini diusianya yang ke tujuh puluh Sembilan, ibuku menjalani hari-harinya sendiri dengan beraktivitas di sekitar halaman rumah. Doa-doa terbaik selalu terucap dari bibirnya disetiap sujud malamnya, untuk kami anak-anaknya. Maafkan anakmu ini Ibu yang belum bisa membahagiakan hidupmu. Tak akan mampu diri ini memberi seperti apa yang telah kau beri karena memang tak akan terbalas semua yang telah kau berikan padaku. Hanya doa-doa terbaik selalu untukmu. Berikan balasan syurgaMu pada ibuku ya Allah.

Goresan singkat di akhir Oktober 2023.
Sri Rahayu, S.Sos (Waka Humas)

Categories:

One response to “MERONCE KENANGAN MBAK”

  1. Avatar Ernayani Despita
    Ernayani Despita

    Luar Biasa.
    Sangat bermanfaat dan inspiratif.
    Semangat berkarya dan siap terus untuk malakukan perubahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts :-

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x