Oleh : Sri Rahayu, S.Sos.
Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tahun ini kita memperingati Hari Guru Nasional yang ke 78 tahun. Kalo melihat angkanya kita akan tau bahwa jumlah itu menunjukkan umur yang sudah tua dan sepuh. Sejatinya manusia dengan umur sepuh tujuh puluh delapan tahun akan menjadi insan yang bijak bestari, diikuti dengan pendewasaan berpikir dan bertindak. Untuk memperingati HGN tahun ini, saya ingin mengangkat satu kisah yang bisa kita jadikan refleksi diri di usia kita yang ke 78 tahun.
Alkisah ada seorang murid yang bertanya pada gurunya, “wahai guru, jika memang benar para guru adalah orang-orang yang pintar, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses dan orang kaya raya” ?.
Gurunya hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Lalu ia masuk ke ruangannya dan kembali dengan membawa sebuah timbangan. Ia meletakkan timbangan tersebut di atas meja, lalu berkata “anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram”. Dapatkan kamu menghitung berapa harga emas seberat itu”? tanya guru tersebut kepada muridnya. Muridnya mengernyitkan kening sesaat lalu mencoba menghitung dan kemudian ia menjawab, “jika harga satu gram emas saat ini adalah delapan ratus ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 milyar rupiah”.
Guru itu manggut-manggut mendengarkan penjelasan muridnya lalu melanjutkan, “baiklah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga emas 5000 gram, adakah yang bersedia membelinya” ? murid itupun berkata dengan sigap, “timbangan emas tidak lebih berharga dari emasnya, saya bisa mendapatkan timbangan tersebut dengan harga di bawah dua juta rupiah, mengapa harus membayar sampai 4 milyar”?.
Kali ini sang guru tersenyum sumringah, “nah anakku, seharusnya kini kau paham, kau sudah mendapatkan pelajaran bahwa kalian para murid adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasimu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini dan biarlah kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar kemajuan dan perkembanganmu”.
Sang guru melanjutkan, “satu lagi pertanyaanku, jika ada seseorang membawa sebongkah berlian ditangan kanannya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata, ditangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kananku ini, tanpa keringat ini maka berlian ini tidak pernah ada, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan berlian”. Apakah ada yang mau membeli keringatnya”? tentu tidak bukan, orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. “Biarlah kami para guru menjadi keringat itu dan kalianlah yang menjadi berliannya”.
Sang murid menangis, ia memeluk gurunya dan berkata “wahai guruku, betapa mulia dan ikhlasnya hatimu. Terima kasih guruku. Kami tidak akan bisa melupakan mu karena dalam setiap kemajuan dan prestasi kami, setiap kilau berlian kami, ada tetesan keringatmu”.
Sang guru mengelus kepala muridnya sambil berkata “biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki disisi ilahi rabbi, karena pada hakikatnya akhirat lebih mulia dari segala pernak pernik di dunia ini”.
Teman-teman, sahabat guru semua, cerita di atas sangat menggugah hati, penuh makna dan sarat akan pesan-pesan moral. Kita para guru layaknya produsen yang memproduksi produk. Produk yang kita produksi bukanlah berbentuk barang atau makanan yang bila habis terjual bisa segera kita produksi lagi dengan cepat. Guru adalah seorang arsitek yang hasilnya bukanlah bangunan atau landscape yang dalam kerja sebulan langsung bisa dilihat hasilnya. Tapi guru adalah arsitek peradaban. Yang kita bangun adalah pondasi bagi kalifah yang akan membawa peradaban di muka bumi. Guru adalah seniman yang mengukir dan melukis keteladanan pada jati diri muridnya. Guru adalah komposer melebihi Beethoven yang menuliskan symphoni melodi indah pada setiap langkah masa depan muridnya. Guru adalah chef handal yang mampu meracik semua potensi yang ada pada muridnya sehingga menjadi bekalnya untuk meniti masa depan. Hasil produk kita baru dapat dinikmati 2 atau 3 tahun mendatang. Produk kita adalah Sumber Daya Manusia yang berkarakter yang dalam prosesnya membutuhkan kasih sayang, perhatian dan tentunya role model yang bisa mereka contoh.
Kehadiran kita tidak hanya sekedar mentransfer ilmu tapi lebih kepada membentuk perilaku dan karakter murid agar bisa menjadi contoh untuk di gugu dan di tiru. Karena sejatinya karakter itu bukanlah sekumpulan teori yang bisa dibaca dan dihafal tapi karakter itu terbentuk karena ada role model yang bisa dicontoh melalui pembiasaan-pembiasaan yang baik (habituation) dari figure seorang guru. Atas karena sebab inilah yang menjadikan guru tidak bisa tergantikan oleh teknologi canggih setingkat AI (Artificial Intelegence) sekalipun.
Walaupun begitu, sangat banyak tekanan dan tantangan yang kita hadapi dalam pekerjaan kita, tetaplah istiqamah sahabat, karena kita adalah orang-orang pilihan yang dinilai pantas berada pada posisi dan profesi kita sekarang ini. Tetaplah jadi role model dalam menampilkan keteladanan, sehingga murid-murid kita tidak kehilangan sosok “figure” yang bisa ditirunya baik dari pemikiran, perkataan dan perbuatan. Tetaplah memproduksi berlian yang keindahannya bisa dinikmati orang banyak dan cahayanya mampu menerangi semesta. Tetaplah menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar kemajuan perkembangan karakter murid kita. Biarlah tetesan keringat kita menguap ke angkasa untuk kemudian menjadi titik-titik embun yang turun menjadi gerimis yang menyuburkan bumi. Biarlah tetesan keringat kita menjadi saksi hisab atas kerja keras kita dan atas hak yang telah kita peroleh selama ini. Biarlah lelah ini menjadi lillah karena Allah.
Akhir kata, Selamat Hari Guru untuk semua guru hebat nusantara terutama guru-guru di SMK Negeri 1 Sabang. Tetap semangat dan teruslah menginspirasi para murid.
#latepost
Catatan akhir November 2023









Tinggalkan Balasan