Kita tahu dan yakin bahwa tidak ada yang tidak berubah di dunia ini, semua akan mengalami perubahan. Segala aspek dalam kehidupan akan mengalami perubahan. Perubahan yang ada dalam diri kita dari muda menjadi tua dan dari kanak-kanak menjadi dewasa merupakan contoh perubahan yang paling dekat dan hakiki. Tidak ada yang perlu dipertentangkan dan dikhawatirkan dengan perubahan dalam diri kita tersebut, selama kita bisa menghadapi dan menyikapi setiap perubahan itu dengan terus memperbaiki diri dan berpikir positif sehingga kita bisa tetap bertahan menjalani hidup. Bisa kita bayangkan kalau kita begitu khawatir dengan perubahan diri kita seperti rambut yang hitam menjadi memutih, kulit yang mulus menjadi keriput, mata yang terang menjadi kabur, maka kita tidak akan bisa menjalani kehidupan dengan baik karena kita akan selalu dihantui dengan kekhawatiran dan ketakutan.
Begitu juga halnya yang terjadi dengan kurikulum dalam dunia pendidikan. Kurikulum itu sendiri merupakan seperangkat pengaturan dan rencana mengenai tujuan, isi dan materi pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum bersifat dinamis sehingga kurikulum sering berubah. Perubahan ini dilakukan karena mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, menyesuaikan dengan karakteristik satuan pendidikan (sekolah) dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Perubahan kurikulum bukan hanya baru sekarang terjadi tapi sudah sejak pasca kemerdekaan dimulai dengan kurikulum Rentjana Pelajaran tahun 1947, Rentjana Pelajaran Terurai tahun 1952, Rentjana Pendidikan tahun 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, Kurikulum 2013 (K-13), dan yang terakhir adalah Kurikulum Merdeka tahun 2022.
Walaupun kita tahu bahwa perubahan akan membawa pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia, namun perubahan bukanlah faktor penentu kesuksesan dalam menjalani kehidupan. Mengutip apa yang dikatakan oleh Charles Darwin (1809) โIt is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.โ Bukanlah spesies yang paling kuat yang akan bertahan hidup, bukan pula spesies yang paling cerdas melainkan spesies yang paling tanggap terhadap perubahanโ
Kita harus sadar bahwa tantangan terberat yang akan dihadapi oleh anak-anak kita dan peserta didik kita nantinya adalah bagaimana mereka mampu menyikapi perubahan tersebut, bagaimana mereka merespon dan mampu bertahan serta beradaptasi menghadapi perubahan tersebut. Hal ini menjadi tantangan bagi kita dalam mempersiapkan Gen-Z untuk menghadapi, merespon dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, sehingga bonus demografi Indonesia benar-benar dapat mewujudkan misi Indonesia emas tahun 2045 nanti.
Untuk melakukan perubahan dan mempersiapkan mereka agar mampu merespon dan beradaptasi dengan perubahan tersebut, maka guru sebagai agen perubahan (agent of change) di dunia pendidikan harus mampu memberikan contoh bagaimana menyikapi perubahan kurikulum ini dengan respon positif. Jangan mengeluh dan apatis dalam menyikapi perubahan. Respon yang kita berikan akan menentukan kualitas kita dalam bekerja dan berkarya. Guru harus siap move on dan mengikuti perkembangan teknologi dalam menyajikan pembelajaran, berubah dari cara konvensional ke cara yang lebih merdeka sesuai dengan kebutuhan pesera didik sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Mulailah bergerak walaupun hanya satu langkah. Ingatlah bahwa ribuan langkah yang kita lakukan dimulai dari satu langkah awal. Karya yang besar dimulai dari hal-hal yang kecil. Teruslah belajar dan melakukan pengembangan diri sehingga kita mampu beradaptasi menghadapi perubahan. Kita tidak akan bisa mengubah anak didik kita kalau kita tidak berubah. Karena mendidik Gen-Z tidak sama dengan mendidik generasi sebelumnya. Khalifah kedua umat islam Umar bin Khatab berpesan โAjarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu, Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalianโ Guru jangan hanya jadi penonton perubahan, hanya melihat perubahan itu terjadi tanpa melakukan apapun dan tidak bisa memberikan kontribusi apapun. Juga jangan jadi penentang perubahan, karena selama ini selalu berada di zona nyamannya sehingga merasa terganggu dengan perubahan. Sebagai agen perubahan, guru harus mampu menjadi pemimpin perubahan, berusaha memulai langkah di depan sehingga dapat mempengaruhi lingkungan sekitar dan menjadi acuan dan contoh bagi peserta didiknya. Tidak ada kata tidak untuk perubahan kurikulum dan tidak ada kata tidak untuk terus belajar. Mari terus belajar dan berubah untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi peserta didik kita. Akhir kata, semoga tulisan singkat ini dapat memotivasi dan menginspirasi teman-teman rekan guru semua, khususnya guru di SMK Negeri 1 Sabang. Salam Literasi.
Penulis : Sri Rahayu, S.Sos (Waka Humas SMKN 1 Sabang)





Tinggalkan Balasan